Sunday, October 9, 2011

1556179

Denton, 19 Februari 2030


Vai Satriani berdiri di antara reruntuhan tembok yang dulunya adalah gedung perkantoran, tempat dimana orang-orang yang berkepentingan bermain saham. Langit mulai gelap dan hujan turun rintik-rintik. Kecemasan tampak jelas di wajah Vai. Dihisapnya sebatang rokok yang sejak tadi ia nyalakan, dan dengan satu hembusan nafas ia mengeluarkan gumpalan asap putih dari mulutnya. Vai Satriani, pria bertubuh ramping dan berkacamata itu kemudian menarik salah satu bagian celana yang ia pakai, lalu merobeknya dengan kasar. Sebilah pisau tajam dan mengkilat terikat pada kakinya. Pisau yang basah dan penuh darah. 


"Kuharap semua darah yang tumpah hari ini bisa membayar semua kesalahanku di masa lalu", Vai bergumam. Rahangnya mengeras, dengan perasaan yang tidak menentu, ia lalu membuang pisau tersebut sejauh yang ia mampu. Entah sudah berapa jam Vai berlari menjauhi Port Vantie, tempat segalanya berawal. Entah sudah berapa kilometer yang ia tempuh sebelum akhirnya ia berada di Denton, tempat peristirahatan sementara sebelum "mereka" menyuruhnya untuk lari lagi. Vai belum pernah merasa selelah hari ini. Letih dan muak, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah mencari tempat aman untuk berteduh dan melupakan sejenak semua yang sudah terjadi. 

Dengan satu tatapan yang bagai menghujam, Vai memandang sekeliling gedung bursa saham yang kini sudah hancur lebur itu. Ia lalu mengambil sebuah roda gigi, memutarnya sedikit, dan dengan sisa tenaga yang ia memiliki ia mengayunkan kedua kakinya. Tidak hanya melangkah pergi, Vai memaksa kedua kakinya untuk berlari (lagi).. 

0 comments:

 
BLOG DESIGN: 188* BLOG DESIGN STUDIO | GIRL WITH LAPTOP: PIXMAC