Tuesday, August 16, 2011

tujuh belas agustus tahun dua ribu sebelas

gambar diambil dari sini


Kepada Yth. Indonesia
di tempat.

Indonesia, saya tidak yakin apakah saya harus menyebut dirimu Bapak atau Ibu. Ketika ingin menuliskan surat ini kepadamu, beberapa orang kenalan saya menyarankan untuk memanggilmu Ibu dengan tambahan kata "pertiwi" di belakangnya. Saya tidak mengikuti saran mereka karena saya masih bingung akan jenis kelaminmu. Sudahlah, itu tidak penting. Bukan untuk tujuan mempertegas hal yang tidak penting itu saya mengirimkan surat ini.

Indonesia, di mata saya, dirimu adalah sebuah rumah, tempat saya tinggal. Taman tempat saya bermain. Dirimu ibarat sebuah sekolah kehidupan, tempat saya belajar.

Indonesia, dalam surat ini saya ingin meminta maaf karena selama ini saya kurang menghargaimu dalam segala hal. Saya ingin meminta maaf telah menyia2kan kekayaan alam yang kau sediakan untuk saya dan seluruh umat manusia yang sama2 berpijak di tanahmu. Menebang pohonmu, mengotori sungaimu, menumpuk sampah di segala penjuru, meracuni sesama dengan polusi dan asap, menghabisi segala sesuatu yang tidak bisa saya ciptakan lagi. Maaf karena saya begitu melukaimu.

Indonesia, saya banyak membaca dan mendengarkan cerita tentang bagaimana para pendahulu memperjuangkan dirimu. Mereka berjuang, tak jarang berperang hingga tetes darah terakhir demi membebaskanmu dari penjajahan. Mereka, yang kini bergelar pahlawan, bersatu dari segala ras, suku dan agama untuk memerdekakanmu. Konon katanya, untuk segala sesuatu ada harganya. Begitu pula dengan dirimu, banyak yang gugur, yang kehilangan anggota tubuh, hingga anggota keluarganya. Tidak sedikit orang yang tersakiti oleh perjuangan ini. Harga kemerdekaanmu sangat mahal. Tapi semua itu terasa adil karena dirimu memang layak diperjuangkan. 

Indonesia, bila kau bisa melihat, keadaanmu sekarang tidak jauh berbeda dari waktu itu. Konflik dan perpecahan masih banyak terjadi, seakan ingin memberikan rekonstruksi akan kejadian2 di masa lalu, kali ini untuk kepentingan golongan2 tertentu. Banyak yang tersakiti. Banyak yang sedih dan tertekan. Banyak yang masih harus berjuang ketika saya pikir kita sudah merdeka. Tolong ingatkan kami, karena terkadang kami lupa, kami itu satu. 

Indonesia, saya rindu padamu. Pada terik panas mataharimu yang mendidik untuk tidak mudah menyerah, pada riak air yang menghibur saya di kala lelah, pada kicau burung yang megiringi saya melangkah, pada hembusan angin yang menyegarkan hati ketika saya menyerah sejenak sebelum kembali melangkah. Saya rindu menggantungkan impian, harapan, dan doa pada ranting2 pohonmu. Sekarang ketika saya jauh di negeri orang, semuanya itu terasa saling berdesak2an hingga sesak. 

Indonesia, saya menulis ini entah karena rasa nasionalis saya atau karena saya rindu pulang. Yang pasti ketika saya dan kamu bertemu, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang saya simpan sejak lama..

Indonesia, apakah dirimu benar2 bhineka tunggal ika?

Indonesia, saya ingin mengucapkan dirgahayu untukmu dan mendoakanmu agar jaya selalu. Seiring dengan harapan untuk masa depanmu yang lebih cerah. Semoga saya dan mereka bisa meneruskan tongkat estafet perjuangan kepada generasi selanjutnya. Semoga saya dan yang lainnya bisa menjaga dan menghargaimu. 

Semoga saya dan yang lainnya, tidak salah memaknaimu :) 

Tertanda,

0 comments:

 
BLOG DESIGN: 188* BLOG DESIGN STUDIO | GIRL WITH LAPTOP: PIXMAC