Monday, November 16, 2009

Pamali..

ayo makanannya dihabiskan, kalau enggak, ntar nasinya nangis lho..
siapa di antara kita yang pernah mendengar kalimat seperti itu? gw pernah. dulu, gw punya pembantu yang kerap gw panggil dengan sebutan bibik. bibik adalah seorang janda berusia 45 tahun (pada saat itu). pakaiannya sederhana dan rambutnya selalu dikonde seadanya. tidak banyak yang gw ingat dari si bibik. tapi ada satu hal yang sering bibik ucapin ke gw (dan kedua anak bonyok lainnya). "pamali, non" ujarnya setiap kali gw melakukan hal2 yang menurut bibik tidak baik. sebelum bicara lebih jauh soal ini, ada baiknya gw menuliskan beberapa contoh hal yang dianggap pamali oleh bibik:
  • kalau makan harus dihabiskan, pamali soalnya, nanti nasinya bisa nangis
  • kalau anak perempuan makan, piringnya harus bersih,  pamali soalnya, nanti pas gede dapet pacarnya yang berewokan
  • kalau tengah malam gak boleh nyisir rambut, pamali soalnya, nanti bisa ngeliat hantu
  • kalau gunting kuku gak boleh di depan pintu, pamali soalnya, nanti bisa ketiban sial
  • kalau foto gak boleh bertigaan, pamali soalnya, nanti yang di tengah umurnya pendek
  • jangan main petak umpet kalau sudah jam 6 malam, pamali soalnya, nanti diumpetin setan
dan lain2 sebagainya..

gw rasa, gak cuma bibik yang sering menggunakan jurus 'pamali' mautnya untuk 'mendidik' orang2 yang dianggap lebih muda darinya (terlebih lagi anak2). kenapa gw kasih tanda '' pada kata mendidik? ya karena di satu sisi, hal itu berhasil membuat anak2 mematuhi peraturan yang dibuat (makan sampai habis, piringnya bersih, gak pernah gunting kuku di depan pintu, dsb). tapi di sisi lain, alasan2 seperti "nanti nasinya nangis", "nanti umurnya pendek", "nanti diumpetin setan" itu mempunyai dampak yang negatif dari segi psikologis si anak. dari kecil, seorang anak sudah dididik untuk mempercayai hal yang tahayul, yang belum tentu benar. dan gw pribadi sangat tidak setuju cara mendidik anak dengan "ditakut2i" seperti itu. anak akan tumbuh berkembang menjadi seorang anak yang penakut dan selalu dikejar perasaan bersalah dan akan meneruskan budaya "menakut2i" ini kepada keturunannya. apa jadinya nasib anak2 bangsa?

akan lebih baik hasilnya, apabila kalimat2 penuh ancaman yang menakutkan itu diganti dengan kalimat2 yang lebih mendidik, seperti contoh:
dihabiskan ya makanannya, bersyukur karena kita masih bisa makan, ingatlah akan sodara2 kita yang kekurangan

 atau..
jangan gunting kuku di depan pintu ya, nanti menghalangi orang yang mau keluar-masuk pintu

atau..
jangan main petak umpet malam2 ya, soalnya gelap, nanti pas lari2 gak kelihatan kalo ada batu, bisa tersandung
dan masih banyak lagi ratusan cara mendidik lainnya. bandingkan bedanya, seorang anak yang terbiasa di 'pamali' in, akan mempunyai akar rasa takut akan hal2 yang tidak beralasan dan kalau dibiarkan nanti dia tumbuh berkembang dengan mentalitas 'takut' ini. sedangkan seorang anak yang terbiasa mendengarkan alasan2 'kenapa-tidak-boleh' yang masuk akal, akan mengerti konsekuensi logis dari perbuatannya. dan bener kok, kata 'pamali' itu tidak sesederhana kedengarannya. hurufnya cuma 6 kata, tapi efeknya sangat besar bagi perkembangan psikologis seorang anak. selain itu, penjelasan2 yang logis dan masuk akal akan jauh lebih mudah diserap dan diterima oleh seseorang dibandingkan ketakutan2 yang mistis.

sebelum menulis ini, gw udah berusaha menuliskan kata kunci "pemali" dan "pamali" pada google dan wiki, cuma tidak mendapatkan keterangan apa2 yang berhubungan dengan postingan gw ini. tapi kalau boleh gw menyimpulkan,
Pamali (menurut gw): sebuah tradisi "sistem didik" yang diwariskan secara turun-temurun dan seringkali dipraktekan oleh orang2 terdahulu untuk mendidik anak2 mereka agar mematuhi peraturan tak tertulis yang mereka buat. bagi mereka yang tidak mematuhinya, ada semacam 'hukuman moral' yaitu rasa takut dan perasaan bersalah. 
itu sih kesimpulan gw, mungkin ada teman2 yang mau menambahkan?

akhir kata, gw cuma mau mengingatkan bagi mereka (khususnya para orangtua) yang masih sering menerapkan kata 'pamali' dalam kesehariannya, mungkin ada baiknya dipikirkan kembali. juga kepada orangtua dihimbau agar meneruskan hal ini kepada para pengasuh (babysitter or pembantu) anak-anak mereka (ini postingan kok ujung2nya jadi kayak seminar penyuluhan begini, sih?! HAHAHAHAHA).

last but not least, buat para rekan blogger yang gw cintai dan kagumi, perkenankanlah kiranya gw mengucapkan sepenggal kalimat ini..
kalau habis baca postingan ini, tinggalin komentar ya, pamali soalnya, ntar koneksi internetnya putus-putus lho..
NYAHAHAHAHAHAHA! MEMIMIWMIMIWMIMIW!


4 comments:

devishanty said...

hahahaha iya yaaa.. aku juga kalo punya anak ga pengen boongin2 kaya gitu.
tapi aku kayanya waktu kecil sering denger kaya gitu tapi ngerti kalo itu cuman takhayul2 doang dan emang ada bagusnya sih di baliknya (kaya "jangan duduk depan pintu nanti berat jodoh" ya emang ngalangin aja sebenernya) hehehe.. jadi kayanya ga ada efek psikologis buruk apa2 buat aku.. *ngkaleeeeeee* hauehuehuhee

Risang "Darto" Seno Sidik said...

waaahh..komen deh.. takut internetnya putus2..hehe..

anyway, gwe juga familiar dengan cara didik "ngancam" seperti itu dan sedikit banyak mengalami di lingkungan gw waktu kecil..benar-benar keyataan sosial itu sih.. tapi dari kecil ntah kenapa gw pun sudah gak nyaman denger "eh..pamali loh..." etc.

Rasanya "ultimatum" seperti itu bisa menghalangi si anak untuk able berpikir logis dan rasional tentang konsekuensi dari satu aktivitas salah yang dia lakukan. kalo keterusan sampe gede, TAKUTNYA, anak-anak itu bakal jadi sangat "superstitious" dan kurang terasah rasionya. Nanti malah semua tindakan yang dilakukan hanya akan didasarkan pada "TAKUT, NTAR PAMALI.."
yaa semoga sih ga begitu yaa... :)

carra said...

pertama - sukkkaaaa banget sama tampilan rumahmu yang baru ^___^ so girly hehehe...

kedua - huh (annoyed) iya tuh banyak banget mitos2 kae gitu sejak dulu... yang paling jengkel sih dulu pas dapet pertama *you know laa perempuan* dipesen2... jangan keramas ya... *lupa sih karena apa* ... haahhh??? 5 hari kaga kramas??? please deh!!! (LOL)

moga2 anakku ntar tumbuh bukan dengan ketakutan karena pamali deh... tapi karena memang dia tau dan mengerti kenapa dia boleh begitu dan begini ^___^

sHaa said...

jreng jreeengg..

mw komen" dulu ahk!
dua mingguan ini bolak-balik ksini tp ga semped baca" :D

gmn gmn buu?
menu bar uda berest kan?
apalagi yg kurang?
huhuw.

ayooayoo kunjungan balik!
klo ngga ntar pamali,
blog na brubah jd jelek!
*hahahaha..

piissdd :P

 
BLOG DESIGN: 188* BLOG DESIGN STUDIO | GIRL WITH LAPTOP: PIXMAC